As far as I can remember, gue jarang sekali membuat checklist apa hal-hal yang ingin gue capai baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. I usually live for today. Walau jarang sekali gue akui, tapi bermimpi dan memiliki target tertentu selalu terasa menakutkan dan penuh pertanyaan: Bagaimana jika ternyata waktunya tidak cukup untuk ke tujuan itu? Bagaimana kalau di tengah perjalanan ada hal-hal yang membuat gue harus berhenti atau mengubah tujuan? Bagaimana jika gue tidak cukup berbuat untuk hari ini?
Pertanyaan dan ketakutan itu yang mungkin membuat gue terasa “hidup untuk hari ini.” Hal ini nggak mengurangi betapa gue terlihat ambisius di mata orang lain, mungkin karena energi gue yang kelihatannya nggak ada habisnya, atau bisa jadi karena berbagai kesempatan karir ataupun belajar yang gue ambil. Again, kalau dari sudut pandang gue itu karena gue hidup untuk hari ini. Karena gue nggak tahu besok gimana, maka ya udah berbuat sebaik-baiknya hari ini.
Lalu apakah gue nggak punya mimpi? Tentu punya, cuma sulit rasanya buat bilang ke orang lain karena balik lagi ke ketakutan gue di atas. Contoh sederhana gue baru aja berulang tahun ke-30 Desember kemarin, usia yang kalau menurut warga mungkin harusnya sudah punya ini itu. Gue nggak bilang gue tidak punya apa-apa saat ini, tapi bukan sesuai takaran society aja, gue belum punya rumah, belum berkeluarga walau di sisi lain karir gue baik, jejaring gue juga bagus. We can have it all but not all at once, katanya.
Trus habis ini apa Cil? Belum tau. Ada beberapa hal yang mau gue coba, ada beberapa tempat yang mau gue datangi, tapi balik lagi gue mau hidup untuk hari ini. Semoga kaki-kaki gue diberikan kekuatan untuk tetap berjalan setidaknya untuk hari ini. Semoga lo semua juga.

Salam,
D