The Unfinished Dream

“Apa yang membuat kamu merasa perlu untuk lanjut S2 setelah 9 tahun bekerja? Kenapa baru sekarang?”


Itu pertanyaan yang dilemparkan ke gue saat interview LPDP beberapa hari yang lalu—interview LPDP gue yang ketiga. Anehnya, kali ini rasanya lebih “pasrah” dibanding sebelumnya.

Sejak lulus kuliah di tahun 2015, gue selalu punya keinginan buat lanjut sekolah. Tapi, seperti kebanyakan orang, hidup selalu punya caranya sendiri buat membawa kita ke jalan yang berbeda. Lulus kuliah, gue harus kerja dulu, menunda keinginan yang ada. Tapi satu hal yang gue sadari: keinginan itu nggak pernah benar-benar hilang. Bahkan, semakin ke sini, semakin kuat keinginan gue buat belajar lagi.

Keinginan buat sekolah lagi nggak pernah hilang, tapi memang belum ada trigger kuat yang bikin gue merasa “this is the time”. Sampai pada tahun 2020 saat gue dan 2 orang teman membangun @daripadabosen, dan di situ pertama kali gue merasa bahwa gue harus mulai persiapan kuliah lagi.

Sayangnya, saat itu masih belum jadi prioritas gue untuk benar-benar duduk dan menyiapkan pendidikan lanjutan. Sampai 2 tahun terakhir gue gabung di tempat kerja gue saat ini dan juga mulai membangun @minutesmanager fokus di bagian edukasi. Sepanjang perjalanan karir gue 9 tahun ini, baru kali ini gue berada di titik puncak ngerasa: the world was moving forward, and I felt like I was being left behind.

Kalimat pembuka di essay gue adalah “Pendidikan selalu punya tempat spesial di hati saya.” Sounds cliche, tapi nulis kayak gini sekarang aja gue berkaca-kaca. Kenyataan pahitnya nggak semua orang bisa punya akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas, bahwa bisa mendapat pendidikan berkualitas itu privilege. Semakin meningkatkan urge gue untuk bisa belajar lebih banyak supaya nantinya bisa buka akses pendidikan ke lebih banyak orang.

Saat menjawab pertanyaan dari interviewer, gue sambil reflect ke 9 tahun terakhir gue berkarir, gue jadi sadar juga kalau pengalaman ini ngajarin gue satu hal: ya emang kita nggak pernah benar-benar tahu. Kadang, yang paling penting adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita butuh belajar lebih banyak, dan nggak takut untuk terus tumbuh.

Setahun terakhir gue jatuh-bangun luar biasa buat mengejar keinginan yang satu ini, patah hati berkali-kali. Banyak moment gue mau nyerah aja, takut gagal lagi. Takutnya semakin besar, tapi keinginan buat belajarnya nggak pernah hilang. Seperti yang gue bilang di atas kali ini modenya agak lumayan “pasrah.”

Setiap orang punya perjalanan masing-masing. Mungkin lo yang lagi baca ini juga ngerasa kayak gue—bingung, stuck, atau takut buat melangkah. Tapi percayalah, nggak ada yang sia-sia dari keinginan buat belajar. Mungkin saat ini lo merasa ada banyak hal yang lo nggak tahu, dan itu justru pertanda baik. It’s a sign that you’re ready to grow.

Gue sadar, pendidikan itu bukan cuma soal dapetin gelar atau status. Ini tentang bagaimana kita bisa berkembang dan berkontribusi lebih banyak ke lingkungan sekitar. Gue yakin, setiap dari kita kita punya potensi besar, dan buat gue, sekolah lagi adalah cara gue menemukan versi diri gue yang lebih baik. Setelah 9 tahun, ternyata apinya nggak pernah benar-benar padam—malah makin besar, dengan bahan bakar yang terus bertambah.

So, don’t be afraid to take the leap. Every step you take, no matter how small, is building something bigger for yourself and for the people around you

Best,
D

Leave a comment