Food, Feelings, and Everything in Between.

Food is a love language

Buat gue, makan itu lebih dari sekadar kebutuhan buat bertahan hidup. Itu adalah proses yang penuh makna, momen di mana koneksi terbentuk, dan cara gue memahami dunia di sekitar gue. Orang-orang yang kenal gue pasti tahu betapa pentingnya “makan” dalam hidup gue. Gue bisa tiba-tiba cranky atau tiba-tiba diam kalau kelaparan.

Gue tumbuh di keluarga yang nggak terlalu mengekspresikan rasa sayang lewat kata-kata atau pelukan. Tapi setiap kali kami duduk bareng di meja makan, semuanya terasa tepat. Kadang juga pergi makan ke tempat-tempat ajaib tanpa perlu banyak berencana. Makan bareng jadi momen buat kami terhubung tanpa perlu banyak kata.

Gue masih inget gimana almarhumah Nenek gue selalu masakin makanan favorit gue tiap kali gue nggak dalam kondisi baik-baik aja. Nenek nggak banyak ngomong waktu nemenin gue makan, tapi kehadirannya itu yang bikin gue merasa diperhatikan. Kadang, nggak butuh banyak kata; cukup ditemenin, dan itu udah lebih dari cukup.

Menariknya, ketika hidup gue lagi hectic, gue malah sering skip makan. Mungkin di bawah sadar, gue masih berharap ada sosok seperti Nenek yang bakal datang dan ngasih gue makan tanpa perlu gue minta. Ini bikin gue sadar kalau buat gue, makan bareng dan masak bukan sekadar rutinitas. Itu adalah love language—cara gue menunjukkan rasa sayang dan peduli, dan berlaku sebaliknya.

Setiap kali gue pergi ke tempat baru, hal pertama yang selalu gue cari adalah makanan khas daerah tersebut. Menurut gue, salah satu cara paling autentik buat mengenal budaya adalah lewat makanan. Apa yang orang makan, gimana cara mereka menyajikannya, sampai tradisi di balik makan itu sendiri bisa jadi jendela buat memahami cara hidup mereka.

Gue juga nggak takut buat eksplorasi makanan baru, walaupun gue bisa banget makan menu yang sama setiap hari selama berhari-hari hahaha. Tapi kalau orang-orang yang dekat sama gue suka makanan tertentu, walaupun gue nggak terlalu suka, gue bakal coba. Buat gue, momen makannya yang lebih penting, bukan apa yang ada di piring. Mau itu nasi telur dadar di rumah, ngunyah roti sambil duduk di taman, atau makan steak di restoran fancy—doesn’t matter, semuanya terasa berarti kalau ada orang-orang penting di sekitar gue.

Sama kayak gue suka makan bareng, gue juga suka masak buat orang lain. Masak sambil ngobrol adalah bentuk rasa sayang gue ke orang. Makanya, cita-cita gue adalah punya rumah dengan dapur ber-island di tengahnya. Gue suka ngebayangin teman-teman atau keluarga gue duduk di stool bar sambil ngobrol, sementara gue masak dan sesekali nimbrung di obrolan mereka. Ada sesuatu yang spesial dalam proses itu—sesuatu yang bikin gue merasa terhubung dengan orang-orang yang penting buat gue.

Jadi, kalau gue pernah masakin atau nawarin buat masak buat lo, itu bukan sekadar basa-basi. Itu adalah cara gue bilang kalau lo penting buat gue. Karena buat gue, makanan bukan cuma tentang rasa. Itu tentang momen, tentang orang-orang, dan tentang perasaan yang muncul di setiap gigitan.

Salam,
D

Leave a comment