2 minggu terakhir gue jalani dengan cukup brutal. Emosi gue seperti dibawa naik turun luar biasa, kesabaran gue diuji sebesar-besarnya, beberapa kali mencapai ujung nyaris meledak. Sejauh ini gue lumayan berhasil mengendalikan diri, tidak meledak-ledak. Namun ada harga yang harus dibayar untuk gue bisa punya kontrol terhadap hal tsb: empati dan perasaan.
Karena banyak sekali hal yang berada di luar kontrol gue sehingga sulit sekali rasanya untuk bisa tetap stabil berdiri. Dalam kondisi ini, gue jadi perlu berpikir lebih praktis dan menyelesaikan semua hal satu persatu secara efektif dan segera. Kalau tidak seperti itu, segalanya akan bertumpuk di depan muka menyebabkan gue bisa meledak kapan saja.
Positifnya, memang betul akhirnya gue bisa menjalani dengan lebih tenang sendirian. Selain itu juga hampir seluruh hal yang perlu diselesaikan, benar-benar selesai. Namun di sisi lain, gue kehilangan kemampuan untuk menyerap emosi orang lain DAN emosi gue sendiri. Gue nggak tahu, saat ini yang gue rasakan apa.
Di kepala gue yang ada hanya bagaimana caranya apa yang di depan mata bisa terselesaikan segera dan tidak berlarut-larut. Selain itu kualitas hubungan gue dengan beberapa orang menurun, jelas karena gue tidak ada bandwidth yang cukup untuk menyerap apapun emosi dari orang lain lah wong emosi diri sendiri aja nggak bisa tahu apa.
Sejauh ini hal yang bisa gue lakukan adalah berpikir bahwa kalau ini badai udah selesai nanti, pelan-pelan kita sambung lagi segala yang terhenti. Walau resikonya adalah mungkin tidak akan sama seperti ketika sebelum ini semua terjadi, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.
Lagipula, ketika gue memutuskan untuk fokus pada sesuatu gue sudah bisa prediksi bahwa resikonya adalah kehilangan hal-hal yang mungkin akan gue sesali di kemudian hari.
Satu hal yang gue pelajari, meski kelihatannya gue fokus untuk hidup saat ini. Tapi momentum ini membuat gue bisa kembali melihat ke dalam, dan bertanya apa yang penting dan tidak penting. Apa yang memang esensial, dan mana yang hanya peran pendamping. Semoga kalau bisa melihat dengan lebih jelas, gue bisa dapat informasi yang cukup untuk membuat keputusan.
Tidak terburu-buru. Karena gue perlu menjalaninya dengan perlahan.

Salam,
D